Undangan Untuk seluruh Rohis PTK
menindaklanjuti postingan yang sebelumnya, kami mengundang seluruh perwakilan PTK yang merupakan nggota FOKRI untuk datang menghadiri TABLIGH AKBAR STSN TAHUN 2009
acara nya dilaksanakan tanggal 27 Juni 2009
dimulai oada pukul 08.00 WIB
bertempat di kampus Sekolah Tinggi Sandi Negara
Sangat besar harapan kami agar Perwakilan dari Antum/na bisa hadir dalam acara tersebut
untuk lebh jelasnya silakan untuk menghubungi
Indraadiputra: 085710182236 (indraadiputra@ymail.com http://indraadiputra.co.cc
sykrn jzk
nb: perwakilan PTK @ 2 Orang
“Negara Islam atau Negara Sekular?”
Sebagian kalangan di Malaysia memimpikan kebebasan ‘ala Indonesia’.? Pilih Negara Islam atau Sekular? Baca Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini ke-206Oleh: Adian Husaini
Pada tanggal 18 Agustus 2007 lalu, saya berkesempatan menghadiri Muktamar Tahunan Angkatan Belia Islam Malaysia (ABIM) di Kuala Lumpur. Panitia seminar Muktamar ABIM meminta saya membentangkan sebuah makalah tentang perbandingan posisi Islam di Indonesia dan Malaysia. Hadir juga sebagai pembicara dalam seminar tersebut Prof. Dr. Wan Mohd Nor Wan Daud,? Dr. Muhammad Nur Manuty, Prof. Abdul Aziz Bari,? Dr. Mohd. Nor Nawawi, dan pengacara senior Pawancheek Marican.
Tema tentang posisi Islam dalam negara senantiasa merupakan masalah yang sangat menarik dan menjadi perdebatan hangat di antara ilmuwan maupun para negarawan, baik di Indonesia maupun di Malaysia.
Hingga kini, meskipun konstitusi di Malaysia menetapkan Islam sebagai agama resmi negara, tetapi penafsiran konstitusi itu juga cukup beragam. Pertanyaan yang masih hangat di Malaysia adalah “apakah Malaysia merupakan negara Islam atau negara sekular?” Sebagian pemimpin Malaysia menyatakan, bahwa Malaysia adalah negara Islam dan bukan negara sekular.
Tetapi, sebagian lain menyatakan, bahwa Malaysia bukanlah negara Islam, tetapi juga bukan negara sekular.
Dalam makalahnya yang berjudul “Is Malaysia a Secular State? Certainly It is Not“, Pawancheek Marican menegaskan, bahwa dari segi peraturan perundang-undangan memang Malaysia bukan negara sekular. Jauh sebelum merdeka tahun 1957, Malaysia telah menerapkan hukum Islam. Mahkamah Agung Malaysia, tahun 1993, menegaskan, bahwa memang Muslim di Malaysia diatur dengan hukum keluarga Islam. Hukum ini telah eksis di Malaysia sejak abad ke-15.
Bahkan, faktanya, Islam telah bertapak secara formal di Malaysia tepatnya pada tahun 1136, ketika Raja Hindu Kedah, Merong Maha Wangsa masuk Islam dan mengganti namanya menjadi Sultan Muzaffar Syah. Karena itu, pasal 3 (1) Konstitusi Malaysia yang menyatakan, bahwa Islam adalah agama resmi negara, merupakan aspirasi kaum Melayu/Muslim sejak wilayah itu menjadi Muslim, beberapa abad sebelum masuknya penjajah Inggris, Portugis, dan Belanda.
Guru besar di Universitas Islam Internasional, Prof. Dr. Abdul Aziz Bari menjelaskan,? menilik hukum perlembagaan di Malaysia, maka bisa dikatakan bahwa negara Malaysia sebenarnya “telah disyahadatkan”.
Lebih jauh, Prof. Abdul Aziz Bari menulis: “Jika kita fahami perlembagaan secara harfiah kita boleh mengatakan bahawa negara ini telah disyahadatkan. Dengan itu terpulanglah kepada kita untuk mengisi kerangka itu dengan apa yang dituntut oleh Islam. Dan kita sebagai rakyat negara ini berhak untuk mentafsirkan ?agama persekutuan’ itu mengikut Islam kerana agama yang dimaksudkan ialah agama Islam.
Adalah ganjil jika ia ditafsirkan mengikut agama lain. Lagipun negara ini asalnya memang negara Islam: negara ini adalah lanjutan dan penerusan kepada sejarah Kesultanan Melayu Melaka yang perlembagaannya, yakni Kanun Undang-undang Melaka, berdasarkan hukum Islam.”
Prof. Aziz Bari juga menjelaskan, bahwa dalam sejarahnya, kedudukan Islam dalam sistem undang-undang di Malaysia, memang disingkirkan dengan cara yang tidak beradab. Ini bermula ketika Inggris melaksanakan undang-undang mereka di Pulau Pinang yang mereka klaim sebagai “tidak berpenghuni”. Padahal, Pulau tersebut adalah merupakan wilayah Kesultanan Kedah yang menerapkan hukum Islam. Pemakaian undang-undang Inggris itu kemudian diperluas ke negeri-negeri Melayu. Semula, Inggris hanya berhak memberi nasehat kepada Sultan dalam soal pemerintahan. Tetapi, dalam beberapa kasus, penjajah juga campur tangan dalam soal Islam.
Betapa pun asal mulanya merupakan tipu daya penjajah, tetapi menurut Prof. Aziz Bari, umat Islam sendiri yang kemudian merasa sudah terbiasa dengan sistem dan undang-undang penjajah. Orang-orang Muslim sendiri kemudian lebih paham dan lebih mahir dalam soal hukum penjajah. Kata Prof. Aziz Bari:
“Tetapi oleh kerana kita sendiri yang kemudian bergantung kepada sistem tersebut maka setelah British tidak ada lagi pun kita masih tidak dapat berbuat apa-apa. Dan buat masa ini kita terpaksa pula berdebat dengan kaum-kaum yang dibawa masuk oleh British ke tanah air ini.”
Yang jelas, menurut para pembicara dalam seminar ABIM tersebut, Malaysia memang bukan negara sekular. Sifat sekular yang didakwakan oleh sejumlah kalangan di Malaysia saat ini, menurut Prof. Aziz Bari, sebenarnya bukan jatidiri dan ciri asal dari negara Malaysia.
Sebab, negeri Malaysia sejak semula memang merupakan kelanjutan kesultanan Melayu Islam.? Dan di dalam sistem perundang-undangan Malaysia, saat ini pun, Islam dijadikan sebagai agama resmi negara dan pemerintah berkewajiban melindungi akidah Islam. Dalam situs pemerintah Malaysia dikatakan:
“Kerajaan tidak pernah bersikap sambil lewa dalam hal-hal yang berkaitan dengan akidah umat Islam. Segala pendekatan dan saluran digunakan secara bersepadu dan terancang bermula dari pendidikan hinggalah ke penguatkuasaan undang-undang semata-mata untuk melihat akidah umat Islam terpelihara di bumi Malaysia”. [http://www.islam.gov.my/e-rujukan/islammas.html]
Di tengah berbagai problema tersebut, bisa dikatakan, Malaysia adalah sebuah negara Muslim yang telah selesai menegaskan jatidirinya sebagai kelanjutan peradaban Melayu Islam. Identitas nasionalnya jelas, meskipun jumlah umat Islam hanya sekitar 55 persen.
Betapa pun perekonomian negeri itu sebagian besar juga dikuasai oleh warga keturunan China, tetapi keberpihakan pemerintah dalam melindungi bangsa Melayu/Islam telah turut menjadi penyeimbang kekuatan antar etnis di Malaysia.
Pada kesempatan seminar tersebut, saya mengimbau saudara-saudara kita di Malaysia, agar berhati-hati dalam menggelorakan semangat demokrasi dan kebebasan yang berusaha merontokkan seluruh hak-hak istimewa dan kelembagaan kaum Muslim. Kebebasan yang kebablasan akan memberikan kesempatan kepada para pemilik modal untuk menguasai seluruh aset ekonomi dan politik, yang ujung-ujungnya akan menimbulkan kesulitan besar bagi kaum miskin – yang mayoritasnya adalah kaum Muslim.
Sebagian kalangan di Malaysia kini memimpikan kebebasan ‘ala Indonesia’. Semua pilihan tentu? ada plus-minusnya. Dan itu harus dihitung dengan matang, untung ruginya buat Malaysia sendiri.
Akhir-akhir ini, kedudukan Islam di Malaysia memang sedang banyak digugat. Malaysia sering dituduh sebagai negara yang tidak menghormati HAM karena memberikan hak-hak istimewa kepada kaum Melayu. Tidak ada hak murtad bagi orang yang Muslim. Padahal, dalam pandangan HAM Barat, setiap orang harus dijamin hak-haknya untuk memeluk agama apa pun, termasuk hak untuk murtad. Semua aturan Islam yang dianggap bertentangan dengan HAM dan kepentingan kaum non-Muslim di Malaysia terus-menerus digugat.
Pada kondisi seperti ini, harusnya kaum Melayu menyadari tantangan besar yang mereka hadapi di Malaysia. Jumlah mereka yang hanya sekitar 55 persen dari seluruh penduduk Malaysia seharusnya membuka mata dan hati mereka untuk tidak bertikai satu sama lain. Mereka adalah Muslim. Dan mereka akan senantiasa dilihat dan diperlakukan sebagai Muslim. Apapun partai politik mereka. Kaum Melayu di Malaysia harusnya bisa belajar dari sejarah, bagaimana hancurnya kekuatan Muslim di Andalusia yang salah satu faktor utamanya adalah perpecahan di antara mereka. Sejumlah penguasa lebih senang bersekutu dengan kaum Kristen untuk memerangi sesama Muslim. Akibatnya, ketika secara total Andalusia jatuh ke tangan kaum Kristen pada tahun 1492, maka semua Muslim, tanpa pandang bulu diberi ultimatum untuk masuk Kristen, pergi meninggalkan Andalusia, atau dijatuhi hukuman mati.
Yang juga memilukan adalah soal hubungan kaum Melayu dan Muslim di Indonesia. Secara umum, rasa persaudaraan itu terasa menyedihkan. Banyak kaum Melayu di Malaysia yang belum mengenal Indonesia dengan baik dan sama sekali tidak merasa sebagai bagian dari saudaranya sesama Muslim. Dari segi bahasa, terjadi kesenjangan yang semakin menjauh antara bahasa Indonesia dengan bahasa Malaysia. Padahal, potensi Muslim Indonesia yang sekitar 170 juta jiwa sangatlah besar.? Seharusnya, pemerintah Indonesia dan Malaysia mengedepankan semangat ke-Islaman dan ke-Melayuan dalam segala urusan antara kedua negara, seperti penanganan masalah TKI dan sebagainya. Potensi kaum Muslim di wilayah Melayu Nusantara yang jumlahnya sekitar 200 juta jiwa ini perlu ditata dan digalang untuk menghasilkan sebuah bangunan peradaban Melayu yang tinggi dan agung.
Bagi kita, kaum Muslim di Indonesia, perdebatan tentang negara sekular atau negara Islam di Malaysia itu bisa menjadi pelajaran berharga. Dalam sejarah Indonesia, hingga kini, ?perdebatan tentang identitas nasional Indonesia, masih belum tuntas. Ada tiga peradaban yang berpengaruh dalam perumusan identitas nasional, yaitu peradaban Islam, peradaban Hindu, dan peradaban Barat. Meskipun bahasa Indonesia yang berasal dari bahasa Melayu telah dijadikan sebagai bahasa nasional, tetapi banyak istilah-istilah Sansekerta yang ditetapkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, seperti Bhinneka Tunggal Ika, Tut Wuri Handayani, dan sebagainya.
Jauh sebelum kemerdekaan, para tokoh Islam telah mengusulkan suatu bentuk negara agama (bukan teokrasi); di mana Islam ditempatkan sebagai dasar negara; setidaknya Islam menjadi agama resmi negara. ?Pihak lain, yang dikenal sebagai golongan nasionalis-sekular menolak usulan itu. Pihak Komunis dan minoritas lainnya, tidak secara resmi mengemukakan pandangan dan pendiriannya. Akhirnya, setelah melalui perdebatan yang sangat keras, pada 22 Juni 1945, disepakatilah rumusan Dasar Negara Indonesia yang kemudian dikenal dengan nama “Piagam Jakarta”.
Salah satu isinya yang penting adalah poin pertama dari Pancasila yang berbunyi: “Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi? pemeluk-pemeluknya.”
Kita tahu, Piagam Jakarta itu kemudian juga digagalkan pada 18 Agustus 1945. Toh, para tokoh Islam tidak pernah menyerah untuk memperjuangkan Islam dan meyakinkan seluruh kaum Muslim Indonesia, khususnya para elitenya, untuk memahami dan menerima Islam sebagai pandangan hidup mereka. Berbagai jalan dakwah senantiasa ditempuh, apakah melalui jalan politik, pendidikan, dan sebagainya. Dakwah senantiasa berjalan di negeri ini. Secara politik dan budaya telah banyak perubahan yang dicapai. Jika jilbab dulu dianggap sebagai barang haram di negeri ini, sekarang sudah begitu meluas penggunaannya di kalangan pejabat dan masyarakat umumnya. Banyak perundang-undangan yang secara tegas atau tersamar mengadopsi syariat Islam.
Dakwah adalah proses perjuangan yang terus menerus menuju pada kejayaan Islam. Para pejuang Islam dari dulu yakin, bahwa untuk menjadi umat dan bangsa yang mulia, mereka harus menjadikan Islam sebagai pedoman hidup mereka. Umat Islam memang harusnya menjadi umat yang mulia, khairu ummah, yang ciri-cirinya adalah aktif melakukan amar ma’ruf nahi munkar kepada umat manusia, dan beriman teguh kepada Allah (QS Ali Imran:110).? Sebagai Muslim, kita yakin, bahwa kita akan menjadi hina, dunia dan akhirat, jika kita meninggalkan ajaran Islam.
“Wahai orang-orang yang beriman, barangsiapa yang murtad dari agama Allah, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum, yang Allah mencintai mereka, dan merkapun mencintai Allah, mereka berkasih sayang kepada orang-orang mukmin, dan tidak menghinakan diri kepada orang-orang kafir, mereka berjihad di jalan Allah, dan mereka tidak takut pada celaan orang-orang yang suka mencela.” (QS al-Maidah:54)
Karena itu, sebagai Muslim kita yakin, bahwa jika umat Islam Indonesia ingin menjadi bangsa besar yang disegani dunia, maka para elite negeri ini perlu membuat sebuah keputusan berani untuk mengambil Islam sebagai asas bengunan peradaban Indonesia di masa depan. Peradaban Islam yang telah ratusan tahun bertapak di wilayah Nusantara ini perlu diaktualkan kembali sesuai dengan watak dasar peradaban Islam yang sangat menghargai tradisi ilmu. [Depok, 24 Agustus 2007/www.hidayatullah.com]
Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian adalah kerjasama antara Radio Dakta 107 FM dan www.hidayatullah.com
islam=me
Hari gini kalau ngomongin soal remaja gaul pasti nggak jauh dari sosok cewek-cowok yang fashionable alias mereka yang selalu update penampilan sesuai tren; rambut bonding atau ala harajuku, di-highlight warna-warni, baju harus minimal distro atau FO (factory outlet). Parfum dengan segala jenisnya juga nggak ketinggalan dimasukkin ke dalam daftar belanja bulanan. Plus, supaya nggak dinilai mati gaya, handphone kudu yang 3,5G atau minimal yang GPRS connected supaya internet tetap online dan acara chatting jalan terus. Supaya nggak dianggap makhluk purbakala, info musik, film, olahraga, en fashion kudu jadi santapan harian.
Eh, ada yang protes nih kayaknya. Gue nggak segitu-gitunya deh ya. Gaul emang kudu. Remaja gitu loh. Tapi, nggak harus juga kayak gitu. Belajar yang bener en jadi orang pinter itu yang harusnya jadi tujuan! Soal baju sih yang penting enak dipake dan nggak telanjang. HP jadul bekas lengseran bokap atau nyokap? Nggak apa-apa. Yang penting kan masih bisa buat nelpon dan sms-an. Iya, ada juga kok emang remaja yang rajin belajar, hemat, baik hati, en nggak sombong lagi. Swit..swiw…
Kalau ditanya siapa remaja yang paling gaul, pasti deh pada berebut unjuk diri dengan ngeluarin semua bukti. Kalau ditanya siapa remaja peduli masa depan dan rajin belajar, yakin deh banyak yang nggak mau ketinggalan. Kalau perlu nih, pada bawa rapor untuk diperlihatkan. Kalau ditanya siapa remaja peduli masa depan plus gaul, wah ini sih pasti lebih banyak lagi yang mengaku tanpa terpaksa. Entah yang beneran sesuai realita? atau cuma ngaku-ngaku biar dianggap hebat. Tapi, kalau ditanya siapa remaja yang relijius? Hmm… kira-kira pada berebut tunjuk tangan juga nggak ya? Kayaknya nggak tuh. Kebanyakan pada mundur. Remaja relijus? Wuih! Berat, bro.
Agama gue emang Islam, tapi ya gitu deh
Udah jadi hal yang umum banget para remaja lebih familiar sama urusan penyanyi papan atas, band-band ngetop, aksesoris branded. Fakta yang jamak juga remaja lebih ngerasa cool kalo ngedugem daripada ngaji. Hang out bareng temen ke kafe atau nikmatin nomat jadi hal yang kudu ada dalam agenda week end. Padahal sebagian besar remaja tersebut adalah muslim.
So what gitu loh? Agama kita emang Islam, tapi bukan berarti kita harus ketinggalan jaman kan? Kayak gitu tuh respon yang biasanya muncul kalau soal agama diungkit-ungkit ke mereka.
Ngomongin Islam dalam beraktivitas keseharian kayaknya yang gimana gitu. Kayak yang ogah banget. Udah deh nggak usah bawa-bawa agama kalo ngomongin soal fashion. Please deh nggak usah bawa-bawa Islam kalo ngomongin pacaran. Aduuuh, gue tuh cuma pengen cari hiburan, kenapa juga harus cari tahu dulu aturan Islam?
Brotha, Sista, Islam diturunkan Allah Swt. melalui Muhammad Rasulullah saw. sebagai aturan yang komplit dalam hidup dan berkehidupan. Sebagai aturan yang komplit, Islam ngatur semua urusan hidup. Urusan makan, minum, sikap ke ortu, menuntut ilmu, bergaul, nonton, denger musik, soal lingkungan hidup, kebersihan, cara ngedapetin harta, gimana ngeluarin harta, gimana hidup sehat, sampe urusan pertahanan-keamanan negara sampe politik ada semuanya dalam Islam.
Dan juga, Islam sebagai aturan hidup pastinya nggak pernah bakal ketinggalan jaman. Never ever! Hidup manusia pasti harus maju dan berkembang. Masa’ iya kalo dulu jaman nenek moyang kirim berita pake jasa merpati, sekarang tetep begitu. Kan nggak. Hari gini, jaman facebook eksis gitu lho. Kalau dua ratus tahun yang lalu kemana-mana pake onta atau kuda, masa’ iya hari gini masih naik begituan. Nggak lah, kan udah jaman motor matic, mobil matic, bis dengan bahan bakar gas nih!
Islam paham banget manusia dengan akal yang dikasih Allah Ta’ala pasti bisa bikin banyak teknologi yang memudahkan, makanya Islam nggak pernah ngekang manusia untuk terus berinovasi. Tapi, Islam juga punya aturan yang jelas gimana kemajuan teknologi nggak bikin manusia lupa diri. Nggak kayak sekarang, atas nama pembangunan berapa juta hektar hutan yang dikorbankan. Atas nama meraih identitas sebagai manusia modern jadi tega ngorbanin manusia lainnya. Sebagian kecil hidup dalam gelimang harta, sebagian besar lainnya dibiarkan hidup terlunta-lunta. Itu fakta yang terjadi saat ini, dan fenomena kayak gitu sama sekali bukan fenomena kehidupan manusia modern. Mana ada manusia modern nggak punya hati ngeliat manusia kanan-kirinya mati? Islam bikin hidup sukses, maju, sekaligus mulia dunia en akhirat, Bro,Sis!
Setiap manusia yang lahir sejatinya adalah muslim. Ketika ruh ditiupkan saat kita berusia empat bulan dalam kandungan ibu-ibu kita, kita berikrar bahwa tiada Tuhan selain Allah Swt. Ikrar yang nggak sembarang ikrar! Ikrar itu sumpah kita! Kalo kita udah bersumpah bahwa nggak ada Tuhan selain Allah Ta’ala, artinya nggak ada zat lain, nggak ada sesuatu yang lain yang seharusnya kita sembah, kita turuti segala perintah dan larangan selain Allah subhanahu wa ta’ala. Kita juga sebagai muslim pastinya bersyahadah bahwa Muhammad utusan Allah Swt. Artinya, nggak ada manusia lain, satupun, di muka bumi ini, yang kita ikutin perkataannya, perbuatannya, dan diamnya, selain Muhammad saw.
Jadi remaja yang relijius, berarti remaja yang berusaha semampu mungkin untuk ngejalanin apa yang Islam perintahkan dan ngejauhin apa yang Islam larang, berdasarkan kesadaran syahadah kita pastinya. Nah, kalo menjadi sosok relijius emang konsekuensi dari syahadah, kenapa juga kita jadi minder? Kan, itu emang seharusnya. Malah kita harus berusaha keras supaya bisa mencapai level relijius itu. Tapi, bukan berarti kita juga harus sok koar-koar relijius ya. Itu sih sombong. Orang sombong nggak sesuai dengan ajaran Islam. En, berarti menodai makna relijius yang sebenarnya.
Cuma untuk Islam
Islam yang jadi jalan hidup jangan sampai deh cuma dipake kalau pas waktu tertentu aja. Pas Ramadhan aja pada rame tadarusan. Atau pas pesantren kilat, baru deh pada? rame pake jilbab. Ngejalanin Islam emang kudu harian.
Tapi… gue nggak mau dibilang radikalis, fundamentalis, atau bahkan teroris. Siapa yang bilang kalau seorang muslim ingin menjadi sebenar-benarnya muslim terus jadi teroris? Ngebela diri dan agama yang dilecehin seperti yang dilakukan saudara-saudara kita di Palestina dan Irak masa’ dibilang teroris? Terus, kalau tentara Amerika dan Israel ngebantai saudara-saudara kita di sana kok nggak dibilang teroris gitu?
Terus, istilah fundamentalis en radikalis sering dikaitin sama kekerasan. Kamus bahasa Indonesia juga memasukkan kata kekerasan untuk dikaitkan dengan radikalis dan fundamentalis. Padahal nih kalo kita mau liat-liat di kamus English to English (karena kan kata radikalis dan fundamentalis dari bahasa Inggris, jadi afdolnya kita kudu liat kamus dari bahasa yang sama), fundamentalis berasal dari kata fundamental yang artinya aturan, prinsip dasar. Nah, fundamentalis berarti orang yang menerapkan aturan dan prinsip dasar.
Gimana dengan radikal? Radikal artinya dasar, perubahan yang mendasar dan menyeluruh. Orang yang radikal berarti orang yang melakukan perubahan yang mendasar dan menyeluruh.
Nah, apa salahnya coba dengan kata fundametalis dan radikal? Sebagai muslim, emang udah jadi keharusan kan untuk menerapkan aturan atau prinsip dalam Islam. Sebagai muslim kita juga kudu ngelakuin perubahan yang mendasar dan menyeluruh terhadap kehidupan saat ini yang sangat tidak adil dan jauh dari sejahtera, supaya bisa menjadi adil dan sejahtera.
Kalo ada cap orang yang fundamentalis dan radikal itu suka melakukan kekerasan, itu sih black campaign alias propapaganda negatif. Karena orang yang melakukan perubahan dengan Islam, dia pastinya harus tunduk kepada aturan Islam. Dan, Islam mengajarkan bahwa perubahan itu dilakukan dengan dakwah tanpa kekerasan.
Kalo musuh Allah Swt, musuh Islam, kasih label yang aneh-aneh ke kita itu supaya kita jadi ngeri sama Islam, terus jadi ngejauhin diri dari Islam. Kalo udah jauh dari Islam, kita jadi jauh sama tuntuntan hidup sebenarnya, kita jadi cupu, jadi lemah. Kita jadi gampang dipengaruhin sana-sini, “disuntik” pemikiran-pemikiran yang sesuai dengan maunya penjajah. Kalo pemikiran kita, benar-salah menurut kita sama dengan benar-salah menurut penjajah, kita jadi gampang dijajah. Boro-boro berjuang ngusir penjajah, punya niat ngelawan aja nggak. Apa yang kayak gitu yang kita mau? Nggak lha yauw!
Islam seharusnya bikin hidup kita beda! Remaja muslim bukan remaja pasaran. Kemana-mana dia pasti menampilkan pancaran yang khas, yang nggak biasa-biasa aja. Tegas dalam bersikap. Yang menurut Allah Swt. dan Rasul-Nya itu benar (haq) maka akan tetap menjadi kebenaran. Yang menurut Allah dan Rasul-Nya itu salah (bathil), maka selamanya salah. Bukan tipe manusia plin-plan. Bukan manusia yang sukanya ikut-ikutan. Di saat yang sama dia juga tulus dalam berkasih sayang terhadap sesama. Cerdas dalam mencari solusi kehidupan, juga gaul terhadap perkembangan jaman. Pemberi solusi, bukan penyumbang masalah. Pembela kebenaran, pejuang keadilan, bukan tipe penjilat apalagi pengkhianat. Duh, jauh deh ya.
Cuma Islam yang bisa bikin remaja begitu. Cuma Islam yang bisa bikin remaja jadi powerful untuk meraih cita-cita. Nggak gampang nyerah sama keadaan. Karena dia sadar kalo cita-cita yang dia perjuangkan adalah cita-cita yang membawa maslahat bagi umat di dunia dan akhirat.
Islam wajib diperjuangkan!
Ketika seorang muslim sudah menjadikan Islam sebagai pilihan hidupnya, jadi hal yang wajar kalau dia mati-matian memperjuangkan. Seperti para pejuang Islam berikut ini:
Ibnu Mas’ud, seorang sahabat Rasulullah, membacakan al Quran di dekat Ka’bah di waktu dhuha di hadapan orang-orang Quraisy yang sedang berkumpul. Orang-orang Quraisy berdiri? menghampiri dia, lalu memukulinya. Tetapi Ibnu Mas’ud terus membaca al Quran sampai wajahnya babak-belur.
Shafiyyah binti Abdul Muthalib, bibi Rasulullah saw, dialah wanita pertama yang membunuh kaum musyrikin. Di pertempuran Uhud, kala kaum muslimin tercerai-berai turun dari bukit tidak mendengar perintah Rasulullah, tinggallah Ali bin Abi Thalib, Umar bi Khatab, Zubair bin Awwam (putra Shafiyyah) , dan Abu Bakar ash-Shidiq. Salah satu gembong kaum kafir, Ubay bin Khalaf mendekat untuk membunuh Rasulullah dengan tombaknya. Namun, Rasulullah mampu merebut tombak itu dan menancapkannya ke tubuh Ubay. Di sisi yang berlainan, Shafiiyah tidak berkedip memperhatikan kondisi kaum muslimin yang mulai terdesak. Semangat juangnya membara dan semakin berkobar melihat pihak kaum muslimin terdesak. Bagai singa betina, dia segera meloncat ke punggung kuda dan menyambar pedang salah seorang muslimin yang sedang berlari. Bagaikan terbang Shafiyyah memacu kudanya ke tengah-tengah medan pertempuran. Pedang Shafiyyah berkelebat ke sana-sini mencari sasaran musuh. Tidak sia-sia karena banyak kaum kafir Quraisy yang tewas di tangannya.
Ustadz Sayyid Quthb ketika ditanya oleh mahkamah tentang penguasa yang berhukum kepada selain apa yang diturunkan Allah (al-Quran). Beliau menjawab, “Dia Kafir.” Maka sebagian muridnya bertanya, “Mengapa engkau berterus terang dalam masalah ini di hadapan mahkamah, padahal lehermu di antara para algojo?” Beliau menjawab, “Ada dua sebab. Sebab yang pertama: karena kami berbicara masalah akidah, maka tidak boleh tauriyah (diplomasi atau menyampaikan perkataan yang berbeda dengan isi hati). Sebab yang kedua: Tidak boleh menyatakan kalimat kekafiran bagi seorang yang diikuti orang banyak. Para pemuda yang menjadi perintis dan teladan umat, maka tidak boleh baginya menyatakan kalimat kekafiran dan bersikap tauriyah dan tidak boleh baginya mengambil dasar ayat di atas. Ketika orang-orang dekatnya mengatakan pada beliau: “Wahai Sayyid! Seandainya engkau mau mengajukan grasi”. Beliau menjawab: “Sesungguhnya jari yang menyaksikan ketauhidan Allah di dalam sholat akan menolak menuliskan satu huruf pun yang mengakui hukum thoghut. Mengapa saya harus mengajukan grasi? Jika saya diadili dengan haq, maka saya akan ridho dengan al-haq, dan jika saya diadili dengan bathil, maka saya merasa lebih besar daripada mengajukan grasi yang bathil.”
Itu sedikit contoh para pejuang Islam yang dengan segenap jiwa dan raga membela Islam. Ya iya dong. Kalo Islam udah jadi pilihan hidup, tentunya harus kita bela habis-habisan. Kalo jaman sekarang, kita bisa bela Islam dengan menampilkan sosok muslim sejati di diri kita, dengan kriteria seperti yang udah dijabarin di atas.
Belum ngerasa sreg ngejadiin Islam sebagai pilihan hidup? Bisa jadi karena kita belum kenal Islam secara mendalam. Kalau belum kenal, gimana bisa jadi sayang sama Islam. Kalau nggak sayang, pasti deh nggak bakal ngejadiin Islam sebagai pilihan hidup.
Nah, supaya bisa sayang, mulai sekarang kenal en gaul deh sering-sering sama Islam. Yang rutin jadwalnya (minimal pantengin terus deh buletin gaulislam: http://gaulislam.com). Usahanya juga harus pol. Insya Allah kita pasti bakal jatuh cinta sama Islam dan akhirnya rela ngejadiin Islam sebagai pilihan hidup. Lagipula milih Islam nggak pernah ada ruginya, bikin kita selamat dunia-akhirat! Mau? Yes! [nafiisah fb: www.nafiisahfb.co.cc]
LATAR BELAKANG FOKRI PTK
A. Latar Belakang Berdirinya FOKRI PTK
Terbentuknya Forum Kerjasama Rohani Islam Perguruan Tinggi Kedinasan (FOKRI PTK) melalui proses yang cukup panjang. Pembentukan Forum ini dilatarbelakangi oleh adanya kebutuhan para Aktivis Da’wah Kampus (ADK) Perguruan Tinggi Kedinasan (PTK) untuk menyearahkan langkah dalam menghidupkan pembinaan dan pembaruan budaya kampus menuju terwujudnya kampus yang cerah dan islami.
Dalam organisasi ini terdapat tiga fakctor penting yang memperkuat tekad untuk segera bergabung dalam menyelaraskan ritme da’wah. Diantaranya :
- Adanya kesamaan warna pendidikan dalam hal ikatan dinas. Kondisi ini sangat erat kaitannya dengan suasana pendidikan baik dalam hal proses pembelajaran maupun keterkaitannya dengan peraturan-peraturan lembaga atau institusi terkait yang tentunya jauh lebih ketat dan khusus dibandingkan dengan perguruan tinggi swasta lainnya.
- Mental senioritas yang cukup kental dalam tataran mahasiswa atau taruna. Keadaan tersebut tentunya menjadi fenomena yang cukup unik untuk disikapi. Peluang ini dapat mengantarkan kepada pemanfaatan yang positif dan negatif. Kepatuhan seorang yunior kepada senior yang hampir tak terakomodasi oleh filter akal dan nurani membentuk pola fikir dan karakter psikologi tersendiri.
- Posisi strategis dalam kantong-kantong batang tubuh pemerintah pasca masa pendidikan. Mahasiswa atau taruna lulusan PTK dipastikan menjadi praktisi atau tenaga ahli yang akan berkecimpung banyak dalam mengelola negeri ini. Oleh karena itu, pembentukan kader-kader yang komitmen dalam mengemban amanah umat harus berjalan secara simultan dan dinamis, sehingga perlu sekali adanya penyatuan pandangan, tekad dan aktifitas dalam sebuah ruang yang mewadahi.
B. PERJALANAN SEJARAH DAN DINAMIKA PERKEMBANGAN ORGANISASI
Cikal bakal terbentuknya kerjasama ROHIS antar PTK diawali oleh adanya kerjasama internal antara 4 (empat) perguruan tinggi, yaitu : STIS, STAN, Poltek GT, dan STPI Curug. Maka pada tahun 1997 terbentuklah Forum Mahasiswa Kedinasan Se-Jabotabek dan disingkat dengan FORMASI Se JABOTABEK.
Namun pada masa akhir periode kepengurusannya tahun 1998, nama forum disepakati untuk diganti melaui Rapat Akbar yang dihadiri oleh 10 (sepuluh) PTK, yaitu : STAN, STIS, Poltek GT, STPI Curug, AKIP, AMG, STP, STIP, STP, dan STTD. Rapat Akbar yang dilaksanakan pada hari Ahad, 5 Juli 1998 tersebut menetapkan bergantinya nama dari Forum Komunikasi Sekolah Kedinasan Se-JABOTAEBK yang disingkat dengan FORSINAS Se-JABOTABEK.
Ditengah terjadinya kemelut reformasi dan memanasnya suhu politik nasional, FOKRI PTK Se- JABOTABEK menyelenggarakan Rapat Akbar Jama’ah pada hari sabtu-Ahad tanggal 29-30 April 2001. Rapat Akbar menetapkan Politeknik Gajah Tunggal sebagai BPH unutk periode kepengurusan tahun 2001/2002. Disamping itu Rapat Akbar juga menetapkan perubahan nama FOKRI PTK Se-JABOTABEK menjadi Forum Kerjasama Rohani Islam Perguruan Tinggi Kedinasan dan di singkat FOKRI PTK. Dengan demikian orientasi da’wah forum tidak lagi terbatas pada lingkup Perguruan Tinggi Kedinasan yang ada di wilayah Jakarta-Bogor- Tangerang-Bekasi saja. tetapi telah meluas pada tataran nasional
Melihat Visi dan misi Organisai FOKRI PTK yang didalamnya terdapat tiga fakctor penting yang memperkuat tekad untuk segera bergabung dalam menyelaraskan ritme da’wah yang telah disebutkan diatas maka pada Musyawarah Akbar tanggal 1 Juli 2001Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional (STPN) Yogyakaeta, Akademi Sandi Negara ( AKSARA) Bogor, dan Akademi Imigrasi (AIM) Jakarta telah memutuskan untuk bergabung dalam organisasi ini.
C. KESIMPULAN YANG DAPAT DITETAPKAN DALAM MUSYAWARAH
1. Menyempurnakan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga FOKRI PTK
2. MENETAPKAN DAN MENGESAHKAN Garis-garis besar haluan Organisasi (GBHO) dan Garis-garis Besar Haluan Kerja (GBHK) FOKRI PTK masa kepengurusan 2002/2003.
3. Meminta, mengevaluas, menolak atau menerima laopran pertanggungjawaban Badan Pengurus Harian FOKRI PTK masa kepengurusan 2001/2002;
4. Menetapkan keanggotaan baru FOKRI-PTK;
5. Membantu Majlis Pertimbangan FOKRI PTK masa kepengurusan 2002/2003.
6. Membentuk Majlis Pertimbangan FOKRI PTK masa kepengurusan 2002/2003.
7. Membentuk Badan Pengurus Harian FOKRI PTK masa kepengurusan 2002/2003
SPMB STSN
UMUM
Sekolah Tinggi Sandi Negara (STSN) adalah sekolah tinggi kedinasan yang diselenggarakan oleh Lembaga Sandi Negara, berdasarkan Keppres No. 22 tahun 2003 tentang pendirian Sekolah Tinggi Sandi Negara.
Mahasiswa STSN meruapakan mahasiswa ikatan dinas (dari umum) dan mahasiswa tugas belajar. Mahasiswa ikatan dinas pada semester IV akan diangkat menjadi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) di lingkungan Lembaga Sandi Negara, sesuai dengan ketentuan dan peraturan yang berlaku.
SISTEM PENDIDIKAN, BEBAN DAN LAMA STUDI
STSN menerapkan pendidikan dengan sistem paket yang dinyatakan dalam Satuan Kredit Semester (SKS). Beban studi yang harus diselesaikan adalah 146 SKS dan ditempuh selama 4 tahun. STSN mempunyai 2 (dua) program studi yaitu program studi Teknik Persandian dan program studi Manajemen Persandian.
Program studi Teknik Persandian memiliki 2 (dua) bidang minat, yaitu Teknik Kripto dan Teknik Rancang Bangun Peralatan Sandi.
PERSYARATAN UMUM
1. Persyaratan Umum
2. Warga Negara Indonesia.
3. Sanggup bekerja pada bidang Persandian.
4. Berkelakuan baik yang dinyatakan dengan Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK).
5. Berbadan sehat dan tidak buta warna yang dinyatakan dengan surat keterangan sehat dari dokter pemerintah atau Puskesmas.
PERSYARATAN KHUSUS
1. Asal calon siswa : Lulus SMA atau Madrasah Aliyah jurusan IPA dengan nila Matematika dan Bahasa Inggris pada raport kelas 12 semester 1 dan 2 minimal 7.
2. Usia : Berusia minimal 17 tahun, maksimal 21 tahun per 31 Agustus 2009.
PENDAFTARAN
Proses pendaftaran :
A. Pengambilan dan Pengembalian Formulir serta Kelengkapan Pendaftaran
* Tanggal : 22 Juni s.d 3 Juli 2009.
* Tempat : Kampus STSN “Bumi Sanapati”, Ciseeng, Bogor.
* Contoh formulir pendaftaran klik di sini
B. Pelayanan proses pendaftaran di atas dilakukan setiap hari kerja (Senin-Jumat), pukul 09.00 s.d 15.00 WIB
Tata cara dan kelengkapan pendaftaran
1. Membawa surat lamaran yang ditulis tangan sendiri dengan dilampirkan :
2. Fotokopi ijazah/Transkrip Nilai Ujian Nasional (NUN) yang telah dilegalisir.
3. Fotokopi raport kelas 12 semester 1 dan 2 yang telah dilegalisir.
4. SKCK dari Kepolisian.
5. Surat Keterangan sehat dan tidak buta warna dari dokter pemerintah atau Puskesmas.
6. Surat Pernyataan belum menikah dari orang tua/wali (Contoh klik di sini)
7. Pas foto berwarna 3 bulan teakhir ukuran 3 x 4 cm , sebanyak 3 (tiga) lembar dengan latar belakang merah.
8. Calon harus datang sendiri untuk mendaftar dengan membawa ijazah dan surat-surat asli sesuai persyaratan tersebut di atas.
9. Panitia menentukan peserta dapat mengikuti seleksi setelah persyaratan dan kelengkapan pendaftaran dipenuhi.
10. Biaya pendaftaran dan seleksi penerimaan mahasiswa baru STSN T.A. 2009/2010 adalah sebesar Rp. 50.000,- (lima puluh ribu rupiah).
SELEKSI SARINGAN MASUK
Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) STSN tahun akademik 2009/2010 terdiri dari beberapa tahap dan dilaksanakan di kampus STSN, Bogor. Jadwal ujian SPMB STSN ditentukan kemudian oleh panitia dan dapat dilihat melalui website STSN.
Tahapan ujian masuk sebagai berikut :
* Seleksi Tahap I : Tes Akademik (Tes Potensi Akademik, Matematika, Bahasa Inggris, Komputer, Fisika-Elektronika dan Pengetahuan Umum).
* Seleksi Tahap II : Tes Psiko
* Seleksi Tahap III : Tes Kesehatan dan Tes Kebugaran.
* Seleksi Tahap IV : Wawancara.
* Seleksi Tahap V : Pantukhir
* Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru STSN menggunakan sistem gugur pada setiap tahap.
PERJANJIAN IKATAN DINAS
Calon Mahasiswa dari umum yang dinyatakan lulus ujian saringan masuk dan diterima sebagai mahasiswa STSN, diwajibkan menandatangani perjanjian ikatan dinas dan mendapatkan Tunjangan Ikatan Dinas (TID),sesuai dengan peraturan yang berlaku.
FASILITAS
Kampus STSN terletak di daerah Parung-Bogor, dilengkapi dengan fasilitas :
1. Ruang Kuliah.
2. Ruang Rekreasi
3. Asrama
4. Laboratorium Komputer
5. Laboratorium Bahasa
6. Laboratorium Elektronika
7. Laboratorium Sandi
8. Perpustakaan
9. Sarana Ibadah
10. Sarana Olahraga
11. Poliklinik
Merajut Kembali Tali Silaturrahim Bersama FOKRI PTK
Rakor FOKRI PTK pertama di tahun 2009
Setelah “tak bergaung” selama kurang lebih satu tahun, FOKRI PTK kembali menunjukkan eksistensinya. Rapat koordinasi FOKRI PTK pada 7 Juni 2009 yang bertempat di kampus “abu-abu” (Sekolah Tinggi Sandi Negara) STSN Ciseeng, Bogor, selaku BPH FOKRI kepengurusan 2007-2009.
Acara yang dimulai pukul 10.00 WIB tersebut dimulai dengan pembukaan tilawah dan saritilawah, lalu sambutan dari tuan rumah, dan dilanjutkan dengan tatsqif oleh Ust. Dadan Muldani dengan pembahasan mengenai Quwwatu fi Dakwah.
Organisasi dakwah diibaratkan dengan sebuah mobil. Dalam sebuah organisasi dakwah terdapat komponen-komponen yang amat vital yang dapat diibaratkan dengan komponen-komponen pada sebuah mobil. Komponen-komponen tersebut antara lain :
- Mesin = Iman/aqidah
- Steer = Akhlak
- Driver = Ilmu
- Roda = Mujahadah/kesungguhan
- Bensin = Maliyyah/harta
Acara dilanjutkan setalah break shalat dan makan siang dengan sharing kondisi medan dakwah dari masing-masing perwakilan PTK yang hadir, yaitu STSN (ya iya lah, tuan rumah …!!!), STIS, STAN, AKIP, AIM, dan AMG. Acara ini berupa sebuah forum diskusi yang dipimpin langsung oleh akh Irwansyah mas’ul FOKRI 2007-2009. Kondisi dakwah mayoritas PTK pada umumnya masih terkendala pada masalah pakaian seragam dinas harian yang belum syar’i bagi akhwat.
Acara ditutup pada pukul 15.00 WIB setelah merencanakan untuk rakor selanjutnya pada 8 Agustus 2009 (insya Allah) untuk membahas solusi dari permasalahan yang telah dipaparkan pada rakor ini. Sebagai tuan rumah selanjutnya adalah kampus STAN Bintaro.
>HSR_21@STIS<
UNDANGAN TABLIGH AKBAR STSN
Ada dua orang ikhwan PTK yang sedang bertemu :
A : Assalamu’alaikum
B : Wa’alaikumsalam
A : Kaifa haluk akhi ?
B : Alhamdulillah badan ane sehat akh, tapi …..
A : Tapi kenapa ya akhi ?
B : Tapi ane lagi jenuh nih sama tugas-tugas kuliah yang makin numpuk aje !!!
A : Ya akhi, ente butuh siraman …..
B : Wah ente tau aje ane males mandi !!!
A : Bukan siraman air akh, tapi siraman rohani !!!
B : Wah kayaknya OK tuh !!!
A : Ya iya lah,,, insya Allah Sabtu 27 Juli 2009 ada TABLIGH AKBAR di STSN lho !!!
B : Wow, seru tuh !!! Gak cuma ceramah tapi bisa sambil silaturrahim juga !!!
A : Ya iya dong, biar kita gak kuper !!!
B : Ngomong2 ada snack yang enak gak ya ?
A : Ente ini, menyelam sambil minum air !!! Yang penting niat kita dulu untuk menuntut ilmu dan silaturrahim akh !!!
B : Ane juga tau akh, kan cuma bercanda. Tapi kalo ada beneran ya Alhamdulillah !!!
A : Kita berangkat bareng ya !!!
B : OK, ane tunggu ya jam 7 pagi di halte depan kampus !!! Jangan telat yeee !!!
A : Bukannya yang biasa telat itu ente ???
B : He…..He…..He…..!!! Insya Allah ane gak telat lagi deh akh !!! Ane mau kuliah dulu ya akh. Assalamu’alaikum
A : Wa’alaikum salam